Telaga Warna dan Telaga Pengilon

 

Telaga Warna Dieng merupakan salah satu objek wisata di kawasan dataran tinggi Dieng. Secara administrasi masuk dalam wilayah Desa Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah. Telaga Warna menjadi destinasi wisata yang sangat populer karena memiliki keindahan alam luar biasa. Tak mengherankan jika tempat wisata ini menjadi salah satu objek wisata andalan Kabupaten Wonosobo. 

Diberi nama Telaga Warna karena memang terjadi fenomena alam yang cukup unik, dimana air telaga tersebut sering berubah warna, terkadang berwarna hijau, kuning, merah, atau kombinasi warna-warna tersebut, sehingga tampak seperti pelangi. Fenomena alam tersebut dapat terjadi lantaran air telaga mengandung kadar belerang yang sangat tinggi, sehingga saat terkena pantulan sinar matahari akan memantulkan cahaya berwarna-warni. Tetapi menurut mitos yang berkembang di masyarakat sekitar Dieng, aneka warna yang muncul dipermukaan telaga warna, konon disebabkan pada jaman dahulu ada cincin milik seorang bangsawan yang jatuh ke dasar telaga tersebut. Singkat cerita cincin tersebut mengakibatkan warna warni pada telaga warna. Berbeda menurut kajian Ilmiah, warna-warni dipermukaan telaga tersebut adalah akibat dari pembiasan cahaya pada endapan belerang/sulfur didasar telaga warna. Warna yang dominan muncul dipermukaan telaga warna adalah Warna Hijau, warna putih kekuningan, serta warna biru laut. Nama Telaga Warna sendiri diberikan karena keunikan fenomena yang terjadi di tempat telaga tersebut, yaitu warna air dari telaga tersebut yang sering berubah-ubah. 

Selain keunikan airnya, kondisi alam di sekitar Telaga Warna juga cukup menawan. Berpadu dengan kesejukan udara pegunungan yang begitu dingin, hembusan angin di sela-sela pepohonan, sehingga menghadirkan suasana yang begitu harmonis. Belum lagi kicauan burung-burung liar yang bersembunyi di balik pepohonan, sungguh membuat suasana hati semakin damai. 

Keberadaan bukit-bukit yang menjulang tinggi, seakan mengelilingi area telaga, merupakan pesona lain yang tak kalah menawan saat Anda berada di lokasi Telaga Warna. Saat pagi hari, pemandangan di area yang berada di ketinggian kurang lebih 2000 meter di atas permukaan laut ini sangat mengagumkan. Sinar matahari pagi yang baru keluar di sisi timur memancarkan sinar yang belum begitu terik, menerobos masuk di sela-sela popohonan, dan menghasilkan pantulan sinar di air telaga yang sangat eksotis. Tentu saja waktu yang paling tepat bagi wisatawan untuk berkunjung ke Telaga Warna adalah saat pagi hari. 

Saat berada di sekitar telaga warna anda akan dibuat terpesona oleh keindahan pemandangannya, selain dikelilingi hutan dan bukit yang hijau. Pepohonan lebat di sekitar Telaga Warna menambah kesejukan, sekaligus juga menawarkan suasana yang sangat indah dan alami. Terkadang, kabut putih pun menyelimuti Telaga Warna ini. Anda juga dapat menyusuri tepi telaga ini dan ada juga balkon kecil untuk duduk bersantai sambil menikmati udara dan keanekaragaman fenomena alam yang mengelilinginya. Lokasi paling tepat untuk menikmati keindahan telaga ini selain berada tepat di hadapannya adalah Anda juga bisa mendaki ke puncak bukit yang memagari telaga. Kondisi menuju bukit ini cukup sempit dan licin dan hanya bisa dilalui oleh satu orang. Di antara rimbunnya pepohonan, Anda bisa menyaksikan keindahan telaga berwarna-warni yang sangat cantik. 

Anda juga akan merasakan suasana mistis yang hening disempurnakan oleh kabut putih dan pepohonan yang rindang. Tidak hanya keindahan pemandangannya saja. Ada juga manfaat air telaga yang mengandung belerang tersebut . Ada yang berpendapat air telaga tersebut dapat menyembuhkan beberapa seperti penyakit kulit, rematik dan lain sebagainya. Banyak pengunjung yang mengambil air di telaga warna ini, semata untuk membasuh bagian tubuh, terutama di bagian kulit yang mengalami gangguan. 

Di sekitar Telaga Warna Dieng juga terdapat beberapa gua alam, seperti Gua Semar Pertapaan Mandalasari Begawan Sampurna Jati. Di depan gua ini terdapat arca wanita dengan membawa kendi. Gua ini juga memiliki kolam kecil yang airnya dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat kulit jadi lebih cantik. Ada juga Gua Sumur Eyang Kumalasari, dan Gua Jaran Resi Kendaliseto. Selain itu, ada pula Batu Tulis Eyang Purbo Waseso.  Gua-gua di sekitar telaga warna ini sering dijadikan sebagai tempat meditasi.

Apabila anda ingin mengetahui lebih dalam tentang Dieng, Anda bisa datang ke Dieng Plateau Theater, letaknya masih satu komplek dengan Telaga Warna, disini Anda bisa menyaksikan film Dokumenter seputar Dieng. 

            Tidak hanya Telaga Warna saja yang ada di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Ada juga telaga yang dinamakan Telaga Pengilon. Telaga yang satu ini ternyata lokasinya bersebelahan dengan Telaga Warna Dieng.

Meskipun bersebelahan, air di Telaga Pengilon tidak berubah warna seperti yang dialami oleh Telaga Warna Dieng. Justru air di Telaga Pengilon ini sangat jernih.

Saking jernihnya, kamu bisa ngaca di air Telaga Pengilon. Mungkin ini juga alasan mengapa telaga ini dinamakan Telaga Pengilon. Karena dalam Bahasa Jawa, pengilon memiliki arti kaca untuk berhias.

Mengenai ukuranya telaga pengilon lebih kecil dari pada telaga warna. Telaga Pengilon (diambil dari bahasa jawa = ngilo, dalam bahasa Indonesia = bercermin) Karena kejernihan air di Telaga Pengilon, disangkutkan dengan sebuah mitos. Yaitu apabila seseorang bercermin di telaga pengilon yang berhati baik / mulia akan terlihat tampan atau cantik, begitu juga sebaliknya apabila ada seseorang berhati busuk bercermin di telaga pengilon maka terlihat jelek. Sebagaian masyarakat dieng masih percaya telaga pengilon dapat mengetahui isi hati seseorang.

 

Telaga Merdada

 

Jika Telaga Warna memiliki warna air yang bisa berubah-ubah dan Telaga Pengilon memiliki air yang sangat jernih, berbeda lagi dengan Telaga Merdada. Telaga ini termasuk telaga terluas di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Telaga Merdada ini terletak di daerah Kabupaten Banjarnegara, tepatnya di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Jika diamati dari kejauhan, Telaga Merdada ini memiliki bentuk yang meyerupai kaldera bekas letusan Gunung Merapi.

 

Dengan luas ±15 ha Telaga Merdada memiliki daya tarik tersendiri karena di kelilingi oleh tebing dan bukit yang kakinya melandai sampai ke tepian air. Di sebelah timur terdapat barak budidaya jamur dan carica, dan daerah di sekitarnya digunakan untuk pertanian.

 

Dalam cerita wayang, lakisah ada seorang resi Gautama yang berputera tiga yaitu putra kembar Guwarso dan Guwarsi serta putri Anjani. Putera kembarnya senang berburu kijang yang nantinya diberikan pada adiknya. Suatu ketika dewi Anjani merenung dan melihat cupu manik Astagina ( semacam cangkir milik dewa ) dan ketiga putra resi Gautama saling berebut. Akhirnya ccupu manik tersebut dilempar oleh resi Gautama, siapa yang dapat menangkap maka dia yang berhak memiliki. Namun bagian bawah cangkir ( merdadi ) terjatuh dan menjadi telaga Merdada. Karena kelelahan maka ketiga anak resi Gautama masuk kedalam telaga untuk menyejukkan badan. Namun ketika keluar wajah mereka berubah menjadi kera. Dari sini mereka menyadari sikap serakah dalam diri masing-masing. Sehingga memutuskan untuk bertapa dan mendarmabaktikan seluruh kemampuan kepada sesamanya.

 

Telaga Menjer

 

Di Dieng, terdapat juga Telaga Menjer yang merupakan Merupakan telaga alami terluas di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Berada pada ketinggian 1.300 mdpl dengan luas 70 hektar dan kedalaman air mencapai 45 meter. Telaga Menjer terletak di desa Maron kec. Garung 12 Km sebelah utara kota Wonosobo. Sisi utara telaga ini berupa pegunungan yang ditumbuhi tanaman hijau termasuk kebun teh yang sangat indah. Dibalik keindahan Telaga Menjer, terdapat sebuah legenda yang masih diceritakan secara turun-temurun oleh penduduk setempat inilah Legenda Telaga Menjer. 

Diceritakan dahulu kala ada dua orang gadis sedang mengumpulkan sayuran di lading. Tiba-tiba datanglah seekor kepiting raksasa mendekatinya. Mereka sangat takjub melihat betapa besar dan tingginya binatang itu. Lupa akan pesan orang tuanya yang mengatakan bahwa apabila sedang berada di lading kemudian melihat atau menemui sesuatu yang asing atau janggal mereka dminta cepat meninggalkan tempat dan jangan menggangu atau mengusiknya, salah seorang gadis itu justru mendekat serta diusapnya sambil keheranan, dan kagetlah mereka melihatnya. 

Pada saat si gadis mengusap punggung kepiting, tanpa disadari sekonyong-konyong kepiting  lenyap dan ditempat mereka berdiri menganga sebuah lubang yang bergerak semakin lebar dan semakin dalam menyerupai sumur yang membawa kedua gadis tadi lenyap tenggelam. Jadilah sumur dengan luas 70 ha yang kemudian dinamakan telaga Menjer. 

Bentuk telaga ini makin ke dalam makin mengecil seperti kerucut (kukusan-Jawa) atau terompet. Di dalam telaga kadang-kadang terlihat seekor ikan besar dengan ukuran tidak terhingga. Beberapa orang juga menyaksikan kadang terlihat seseorang berjalan di atas telaga. 

Telaga Menjer terletak berdekatan dengan desa Maron, Menjer, dan Tlogo. Di bagian barat telaga ada pohon besar menyatu dengan batu besar mirip sandaran dan di antara batu ada lubang seperti pintu yang ditutup tiga buah batu. Kalau batu dibuka, kita melihat mata air dalam lekukan seperti bak kurang lebih 3 m2 luasnya dan biasa disebut goa Song Kamal. 

Banyak orang datang mengambil air dari sana untuk berbagai keperluan, dan sudah menjadi kepercayaan masyarakat sekitar desa bahwa apabila mereka melihat permukaan air tinggi, hal itu menjadi pertanda datangnya kemakmuran bagi rakyat desa. Sedangkan apabila permukaan air berkurang/surut, hal ini menandakan ada hal-hal yang perlu diwaspadai.

Telaga Cebong

 

Telaga cebong terletak di Desa Sembungan, Kecamatan dataran tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Di telaga ini banyak ditemukan beragam jenis ikan dari berbagai ukuran dan usia. Sembungan menjadi salah satu desa terfavorit di dieng dengan luasan 2,65 kilometer persegi. Lokasi Telaga Cebong berada disebelah barat. Gunung Sikunir dengan bentuk menyerupai cebong/berudu mungkin dari bentuk itulah akhirnya telaga ini diberi nama telaga cebong.

Dikenal sebagai desa tertinggi di kepulauan jawa. Wisatawan bisa menikmati air danau yang jernih dengan naik perahu-perahu motor yang meliuk-liuk di bibir telaga. Mendatangi telaga cebong adalah mengobati dahaga akan keindahan rajanya telaga.

Air telaga cebong dipagi hari sering tampak berkilau seperti minyak apabila disaksikan dari jalan menuju Gunung Sikunir, hal ini juga menjadi moment terbaik untuk diabadikan oleh para pengunjung. Selain untuk kepentingan pariwisata, telag Cebong juga menjadi tumpuhan harapan petani untuk setempat untuk mengairi ladangnya. Suasana sejuknya alam pegunungan dikawasan dataran tinggi Dieng. 

 

Telaga Balekambang

 

            Telaga Balekambang terletak di Desa Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara. Merupakan telaga kuno yang dahulu difungsikan untuk menampung buangan air agar tidak menggenangi komplek Candi Arjuna. Memiliki luas sekitar 10 hektar. Namun sebagian mengalami pendangkalan dan tertutup oleh rumput.           

            Proses sedimentasi lumpur di kawasan Telaga Balekambang bermula dari alih fungsi lahan hutan menjadi area pertanian kentang dan sayuran warga sekitar Dieng. Fungsi hutan untuk menahan air saat hujan menghilang sehingga guyuran hujan menggerus lapisan tanah dan membawanya ke arah bawah. Aliran air hujan yang membawa endapan lumpur atau lapisan tanah tersebut mengarah ke bawah atau lebih tepatnya ke arah Telaga Balekambang. 

            Proses ini terjadi terus-menerus setiap tahuan. Dan lama-kelamaan terjadi pengendapan serta pendangkalan telaga. Sebagian wilayah Telaga Balekambang menghilang tertimbun endapan tanah. Oleh masyarakat sekitar, endapan tanah di area Telaga Balekambang beralih fungsi menjadi area pertanian kentang. Dan sisa-sisa air di Telaga Balekambang di gunakan untuk kebutuhan air pertanian di musim kemarau. Bila dibiarkan terus-menerus Telaga Balekamban akan mengering dan menghilang kemudian beralih fungsi total menjadi lahan pertanian. Kejadian semacam ini mirip dengan Telaga Swiwi yan akhirnya hanya mampu diselamatkan sebagian saja dari seluruh area telaganya.

 

Telaga Dringo

Telaga Dringo merupakan salah satu danau alami yang berada di dalam kawasan dataran tinggi Dieng. Keberadaannya jarang di dengar karena belum dikembangkan sebagai obyek wisata. Kondisinya masih sangat alami karena sama sekali belum tersentuh pembangunan. 

            Telaga Dringo berada diperbatasan antara desa Mojotengah, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, dengan Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Secara geografis Telaga Dringo berada di salah satu puncak di Dataran Tinggi Dieng. Telaga Dringo terbentuk dari bekas letusan kawah pada tahun 1786. Hal ini diperkuat dengan bentuk cekungan yang terlihat dari salah satu bukit yang mengelilinginya. Nama Dringo berasal dari nama tanaman Dringo yang tumbuh secara liar dan tidak dibudidayakan disekitar telaga tersebut. 

            Mwmilih jalur menuju Telaga Dringo dari Kabupataen Batang merupakan tantangan tersendiri. Jalur inimerupakan jalur favorit bagi para penjelajah kendaraan offroad. Medan jalan yang dilalui cukup menantang karena kondisi jalan masih berupa jalan tanah berbatu (jalan makadam) dan beberapa tanjakan cukup curam dan tajam. Tidak heran bila para pengguna kendaraan offroad sering melintasi jalur ini pada akhir pekan kendaraan biasa atau non offroad pun dapat melewati jalur dari Kabupaten Batang. Hanya saja kondisi kendaraan harus benar-benar prima dan dikendalikan oleh pengemudi yang handal atau menguasai medan jalan. 

             Masyarakat berpendapat Telaga Dringo di sebut-sebut mirip danau Ranu Kumbolo yang berada di lereng Gunung Semeru, Jawa Timur. Tidak heran bila banyak yang menyebut Telaga Dringo ini sebagai Ranu Kumbolo KW2 atau Ranu Kumbolonya Dieng. Seperti yang kita ketahui bahwa Ranu Kumbolo KW1 adalah Danau atau Telaga Ngebel, Ponorogo. Hal yang mungkin menjadi kesamaan antara kedua tempat tersebut adalah bentuk danau yang bulat dikelilingi oleh perbukitan dan sangat cocok untuk menikmati pemandangan matahari terbit atau sunrise. 

            Kondisi air pada Telaga Dringo masih terlihat alami dan belum tercemar. Air Telaga Dringo berasal dari sumber mata air yang bermunculan dari dasar danau dan aliran air hujan yang mengarah ke danau tersebut. Ikan-ikan liar yang hidup di telaga tersebut cukup melimpah dan kadang muncul ke permukaan telaga. Tidak diketahui pasti dari mana asal-usul ikan tersebut. Apakah pernah ada yang melepas bibit-bibit ikan di danau ini? Sepertinya menarik untuk dipancing namun hal tersebut sebenarnya dilarang karena dapat mengganggu kelestarian alam. 

            Polemik yang muncul dari kawasan Telaga Dringo adalah penggunaan air telaga untuk mengairi lahan pertanian kentang warga sekitar seperti halnya Telaga Balekambang. Kondisi ini sebenarnya dilarang karena dapat mengancam kelestarian air juga kelestarian alam. Pada musim kemarau, air di telaga Dringo akan surut bahkan mengering. Sumber mata air yang ada disekitar telaga memiliki debit air yang kecil dan cukup lama untuk mengembalikan kondisi telaga yang penuh air seperti semula. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat sekitar untukmelakukan sosialisasi sebelum terlambat. 

            Telaga Dringo mulai ramai dan menjadi satu lokasi favorit berkemah (camping) sejak awal tahun 2015. Daya tariknya yang mirip dengan Ranu Kumbolo membuat sebagian petualang memilih tempat ini dan tidak perlu jauh-jauh pergi ke Gunung Semeru. Setiap akhir pekan tampak beberapa tenda wisatawan berdiri di tepi telaga.

 

 

Download Freewww.bigtheme.net/joomla Joomla Templates Responsive